Tempat Wisata Huta Siallagan – Desa Batak Kuno

huta siallagan

Siapa yang tidak mengetahui tempat wisata danau toba yang merupakan salah satu tempat wisata terkenal di Sumatera Utara, Indonesia? Banyak legenda-legenda yang menceritakan tentang keberadaan danau toba yang bisa anda temukan di situs internet atau bahkan pernah anda dengar sendiri.

Ditengah-tengah danau toba terdapat sebuah pulau yang disebut pulau Samosir, sebuah tempat asal-muasal dari suku Batak di Indonesia. Dahulu suku batak tinggal dalam sebuah desa kecil di dalam pulau Samosir yang bernama Huta Siallagan. Dalam bahasa daerah, Huta berarti pemukiman atau desa, oleh karena itu, Huta Siallagan dapat diartikan sebagai Desa Siallagan.

Huta Siallagan mencakup area seluas 2.400 meter persegi dan dikelilingi oleh tembok batu setinggi 1,5 sampai 2 meter. Dibangun dari batu-batu terstruktur yang licin, dinding itu dulunya dilengkapi dengan benteng dan bambu yang tajam untuk melindungi desa dari binatang liar dan serangan dari suku lain. Walau terlihat seperti zaman perang, di dalam Huta Siallagan memiliki warisan budaya yang harus anda kenal dan pahami.

Eksplorasi Menggunakan Kapal

Huta Siallagan masih masuk wilayah Desa Ambarita di Pulau Samosir. Untuk menuju sana, sobat traveler harus menumpang kapal boat dari Danau Toba. Kapal yang menuju Ambarita cukup jarang, karena kebanyakan rombongan wisatawan lebih suka dibawa ke Desa Tomok – yang terkenal sebagai pusat budaya dan hasil kerajinan tangan serta suvenir.

Namun tak perlu khawatir. Jika memang tak menemukan kapal jurusan Ambarita, sobat traveler tinggal meminta diantar ke daerah Tomok. Dari sana tinggal menyewa sepeda motor untuk mencapai tempat tujuan melalui jalur darat.

Perkampungan Kanibal

Huta Siallagan merupakan perkampungan Suku Batak yang sempat tersohor karena tradisi kanibal alias memakan daging manusia. Namun demikian bukan berarti penduduk sini dulunya sangat primitif. Kebiasaan menyantap daging manusia dilakukan dengan alasan jelas.

Orang yang melakukan tindakan kejahatan, seperti membunuh, mencuri, atau memperkosa, akan diadili terlebih dulu di tempat bernama Batu Persidangan. Begitu keputusan diambil, mereka biasanya akan dipancung. Kepalanya akan digantung di depan desa sebagai tanda peringatan, sementara tubuhnya dipotong dan dimasak sebelum kemudian dimakan bersama-sama.

Mirip Benteng

Jika dilihat sepintas dari luar, Desa Huta Siallagan bisa dibilang mirip sebuah benteng. Luas wilayahnya mencapai kurang lebih 2.400 meter persegi. Di sekelilingnya terdapat tembok batu dengan tinggi antara 1,5 hingga 2 meter.

Dinding tersebut terbuat dari bebatuan licin, konon dulunya juga dilengkapi bambu tajam. Tujuannya tak lain adalah melindungi desa dari serangan suku wilayah lain maupun hewan liar. Dua ancaman tersebut sudah tak ada lagi zaman sekarang, namun kehadiran tembok kuno menambah atmosfer spesial ketika berkunjung ke Desa Huta Siallagan.

Tarian Penyambutan

Sobat traveler yang ingin berkunjung ke Huta Siallagan sebaiknya berkoordinasi terlebih dahulu dengan guide setempat. Sebab biasanya pengelola kawasan ini menyiapkan penyambutan khusus untuk para pengunjung. Salah satunya berupa tari-tarian bersama patung Si Gale-Gale.

Wisatawan akan diajak bergoyang mengikuti irama gondang batak dengan dipandu beberapa orang guide. Setelah tiga atau empat tarian, sambutan baru benar-benar selesai. Barulah kemudian pengunjung bisa mulai berkeliling sekitar kampung sembari mendengarkan kisah sejarah menarik di Desa Huta Siallagan.

Itulah tadi sekilas gambaran mengenai pesona keindahan, sejarah, dan tradisi menarik yang ada di Desa Huta Siallagan. Bagi sobat traveler yang tertarik menyelami budaya kanibal suku Batak kuno di Pulau Samosir, sangat disarankan berkunjung ke sini jika kebetulan sedang berada di Sumatra Utara.