Patung Martha Christina Tiahahu | Sosok Wanita yang Menghadapi Belanda

patung martha christina tiahahu

Martha Christina Tiahahu merupakan seorang pahlawan wanita yang berasal dari Maluku yang pada umur 17 tahun, dengan gigih dan berani melawan penjajah Belanda. Hal tersebut menjadikan beliau sebagai sosok yang dapat dijadikan panutan bagi setiap generasi muda saat ini. Martha Christina Tiahahu lahir di Nusa Laut pada tanggal 4 Januari 1800. Nusa laut adalah sebuah pulau kecil yang berada di Kabupaten Maluku Tengah.

Sebelum indotraveler menceritakan tentang kegigihan dan keberanian serta monumen / tugu Martha Christina Tiahahu, indotraveler akan bahas sedikit tentang sejarah tempat kelahiran Martha Christina Tiahahu. Menurut orang tatua (panggilan orang tua bagi orang Maluku-red) Nusa Laut dahulunya merupakan pulau yang besar. Di Pulau tersebut hiduplah 2 orang yang berbeda kepercayaan. Mereka hidup rukun satu sama lain, dan saling membantu dalam kehidupan keseharian mereka. Kedua bersaudara tersebut merupakan saudara dengan garis keturunan Patrilineal dimana mereka merupakan anak dari seorang Bapak namun berbeda ibu.

Suatu hari terjadi keributan diantara mereka berdua, perkelahian ini ditenggarai oleh perebutan sebuah pohon. Pohon yang diperebutkan mereka adalah sebuah pohon yang orang Maluku atau orang Ambon lebih mengenal dengan istilah Pohon Sukung, sedangkan orang di Pulau Jawa menyebutnya dengan Pohon Sukun. Pohon Sukun ini memiliki buah yang cukup digemari, biasanya buah sukun ini dapat dinikmati dengan cara digoreng. Kembali ke sejarah Nusa laut, Setelah mereka berkelahi, akhirnya pada suatu Malam terjadilah sesuatu yang mengejutkan, secara tiba-tiba Pulau Nusa laut terbelah menjadi 2 bagian, sang kakak tetap berada di Nusa Laut, sedangkan sang adik berada di pulau yang terbelah yaitu dikenal dengan pulau Ambalau.

Pulau Nusa Laut hingga saat ini disebut juga dengan Pulau Kakak, bahkan menurut informasi yang belum indotraveler ketahui kebenarannya, Pulau Nusa Laut memiliki kandungan tambang berupa emas yang kadarnya cukup tinggi, sehingga Nusa Laut dikenal juga dengan Pulau Emas. Mayoritas penduduk di Nusa Laut beragama Kristen, sedangkan Pulau Adik (Ambalau) mayoritas penduduknya beragama Muslim. Sebelum kedua pulau ini terbagi menjadi dua, dan setelah kedua adik dan kakak ini berkelahi, sang kakak sempat berpesan kepada sang adik dimana jika suatu saat adik rindu kepada kakak, lihatlah Matahari terbit, disanalah kakak berada.

Itulah sepenggal cerita sejarah daerah tempat lahir Martha Christina Tiahahu, tercatat dalam sejarah, bahwa diumur 17 Tahun Martha Christina Tiahahu sudah ikut bejuang bersama ayahnya Kapitan Paulus Tiahahu untuk mengusir penjajah di negeri Nusa Laut, bersama dengan Kapitan Pattimura yang juga menjadi sahabatnya. Singkat cerita Martha Christina Tiahahu dan ayahnya ditangkap oleh penjajah dan dibawa kedalam kapal Eversten. Didalam Kapal tersebut mereka diinterogasi dan Martha Christina Tiahahu dibebaskan dari hukuman namun sang ayah dijatuhi hukuman Mati. Kecintaannya terhadap sang ayah membuat Martha Christina Tiahahu yang juga mendapat julukan putri Nusahalawano ini terus membujuk Belanda agar ayahnya dibebaskan dari tuntutan hukuman mati. Usahanya untuk membujuk Belanda tidak berhasil, mereka berdua ditahan di Benteng Beverwijk pada tanggal 16 Oktober 1817 sebelum akhirnya sang ayah dieksekusi mati oleh Belanda.

Perlakuan Belanda kepada sang ayah membuat Martha Christina Tiahahu geram dan marah hingga akhirnya dia sempat seperti orang yang kehilangan akal dan dia lari ke dalam hutan. Bulan Desember tahun 1817 Belanda kembali melakukan sweeping terhadap masyarakat Nusa Laut, dimana akhirnya Putri Nusahalawano ini kembali tertangkap dan akan dipekerjakan menjadi buruh kasar di perkebunan Kopi di Pulau Jawa. Mendengar bahwa dia akan dibawa ke Pulau Jawa, Martha Christina Tiahahu pun marah, di tengah kondisinya yang sedang sakit, akhirnya ia ditahan didalam Kapal Eversten yang akan membawanya ke Pulau Jawa. Dalam kondisi sakit, ia menolak pengobatan dan makanan yang diberikan oleh Belanda, sehingga memperburuk kesehatannya. Belum lama setelah Kapal Eversten meninggalkan Nusa Laut, tepatnya pada tanggal 2 Januari 1818 di sekitar perairan Tanjung Alang, Martha Christina Tiahahu menghembuskan nafas terakhirnya dan jenazahnya disemayamkan dengan penghormatan Militer ke laut Banda.

Tahun 1969 Pemerintah Indonesia menetapkan Martha Christina Tiahahu menjadi Pahlawan Nasional melalui Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 012/TK/Tahun 1969, tanggal 20 Mei 1969. Selain menetapkan “mutiara dari timur” ini menjadi seorang pahlawan, didirikanlah sebuah monumen yang terbuat dari perunggu berukuran tinggi 26 kaki yang terletak di daerah Karang Panjang Ambon dengan menghadap ke Laut Banda dan juga patung yang sama di Desa Abobu Nusa Laut tempat lahir sang pejuang wanita ini.

Patung Martha Christina Tiahahu berdiri megah dan kokoh terletak di daerah Karang Panjang Ambon, lokasi ini merupakan dataran tinggi (bukit) yang dapat ditempuh dalam waktu sekitar 10 menit dari pusat Kota Ambon. Lokasi ini bersebelahan dengan kantor DPRD Provinsi Maluku dan berada tepat di depan rumah dinas Wakil Gubernur Maluku. Patung Martha Christina Tiahahu sengaja didirikan menghadap ke Laut Banda untuk mengenang jasanya yang gigih berjuang melawan penjajah.